Sudah tak terperikan lagi bagaimana konflik antara Muslim Sunni dan Syiah memakan begitu banyak korban jiwa, baik di masa lampau mau pun hingga era komunikasi 3,5G ini. Di Timur Tengah, khususnya Irak, perang terbuka antara kelompok pejuang Sunni atau pun pejuang Syiah masih saja terjadi. Lantas, apa yang terjadi jika Muslim Indonesia bermazhab Sunni dan Syiah dipertemukan?
Perang terbuka dengan AK-47? Barangkali dan Insya Allah itu tidak akan terjadi. Namun perang urat syaraf, itu sudah pasti. Setidaknya, itulah yang bisa disimak dalam dialog terbatas Sunni-Syiah yang digelar di Aula gedung PPs (Program Pascasarjana) UIN Alauddin, Jl Sultan Alauddin, Jumat (6/2/2009). Begitu susahnya mempertemukan benang merah kedua ideologi terbesar dalam dunia Islam ini.
Dialog terbatas yang diprakarsai PPs UIN Alauddin ini mengangkat tema Titik Temu dan Letak Perbedaan Sunni-Syiah Tentang Sahabat. Penganut Syiah Indonesia diwakili IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia). Sementara Wahdah Islamiyah mewakili kelompok Sunni.
Untuk diketahui lebih dulu, penganut mazhab Syiah umumnya menolak sebagian sahabat yang hidup semasa Rasul saw untuk dijadikan teladan atau pun panutan dalam ajaran Islam. Mazhab Syiah meyakini bahwa tidak semua sahabat benar-benar setia dan patuh kepada Rasul saw. Sebaliknya, hanya sahabat yang setia dan patuh kepada Rasul saw yang bisa dijadikan rujukan ajaran Islam.
Di lain sisi, Mazhab Sunni, khususnya Wahdah Islamiyah meyakini semua sahabat Rasul saw yang jumlahnya lebih 100.000 orang sudah terjamin kebaikan dan kebajikannya. Mereka pun menganggap seluruh sahabat sangat layak dijadikan rujukan ajaran Islam, khususnya Khulafaur Raasyidin (empat khalifah utama), yakni Abu Bakar Ash Shiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra, dan Ali bin Abi Thalib kwh.
Dalam dialog ini, mewakili kelompok Syiah adalah Ketua Dewan Syuro IJABI, Prof Dr KH Jalaluddin Rakhmat M Sc, yang juga dikenal sebagai pakar komunikasi, politik, sosiologi dan tasawuf. Sedangkan Wahdah yang menganut paham Wahabi (1) ini mengutus Ketua DPC Wahdah Islamiyah Makassar, Ustad Rahmat Abdul Rahman LC.
Di atas meja panjang, dedengkot mazhab Syiah dan Wahdah ini duduk bersama. Diantaranya kursi keduanya duduk Prof Dr AGH Ahmad Sewang (Direktur PPs UIN Alauddin) dan Dr Muhammad Zain (peneliti sejarah para sahabat Nabi Saw). Sementara Hamdan Juhannis (Pemerhati Masalah Islam) menjadi moderatornya.
Meski digelar secara terbatas dan sederhana, namun kualitas acara ini tak perlu disangsikan lagi. Sebab acara ini dihadiri oleh sejumlah ulama dan cendekiawan. Moderator Hamdan menyebut Muhammadiyah, NU, MUI, ICMI, KPPSI bahkan aktivis Ahmadiyah ikut berpartisipasi. Malah, aula PPs UIN Alauddin yang ukurannya memang tidak luas itu akhirnya menjadi sesak oleh pengunjung. Sebagian terpaksa harus duduk melantai.
Pukul 15.00 Wita, acara yang sebenarnya dijadwalkan setelah Salat Jumat atau pukul 13.00 Wita, baru dimulai. Prof Dr KH Jalaluddin Rakhmat M Sc yang akrab disapa Kang Jalal diberi kesempatan selama 30 menit memaparkan makalahnya.
Kang Jalal mengingatkan bahwa makalahnya mengutip penjelasan sejumlah tafsir Alquran serta hadist-hadist yang diakui Mazhab Syiah atau pun Sunni. Ayat-ayat tentang sahabat yang dikutip Kang Jalal antara lain Surah Al Fath ayat 18, dan surah Al Bayyinah ayat 8, surah Al Hujurat ayat 2 serta surah Al Jumuah (Jumat).
Melalui Alquran dan fakta sejarah, Kang Jalal mengungkapkan bahwa beberapa sahabat ternyata ada yang patuh, dan juga tidak patuh terhadap perintah Nabi saw. Itu bisa dilihat dari Al Hujuraat ayat 2 yang isinya memperingatkan kepada sahabat tertentu supaya tidak lagi mengeraskan suaranya melebihi suara Nabi saw.
Di dalam surah Al Jumuah, juga diceritakan bagaimana sejumlah sahabat diperingati karena meninggalkan Nabi saw yang sedang khutbah Jumat. Para sahabat ini meninggalkan khutbah karena ingin menyaksikan kelompok pemusik yang lewat kala itu.
Beberapa fakta lain yang disebutkan dalam Alquran juga mengungkapkan adanya sahabat yang mencari-cari alasan supaya tidak ikut perang melawan kaum kafir, bahkan melarikan diri dari medan perang.
"Olehnya itu, tidak semua sahabat bisa disebut 'Adalah (berkeadilan). Hanya sebagian sahabat saja," kunci Kang Jalal.
Kang Jalal juga menyinggung tentang kisah Khalid bin Walid yang cerita heroiknya sudah melegenda di sebagian Muslim. Menurut catatan sejarah, Khalid bin Walid ternyata pernah membunuh seorang muslim bernama Malik bin Nuwairah lantaran terpikat kecantikan istri Malik, Laila binti Mihlal. Usai membunuh Malik bin Nuwairah, Khalid pun meniduri Laila malam itu juga.
Perbuatan Khalid ini tak urung menyebabkan Umar bin Khattab ra dan Abu Bakar As Shiddiq ra yang menjadi khalifah saat itu, bertentang pendapat. Umar menginginkan agar Khalid dihukum mati karena membunuh seorang muslim dan berzinah. Namun Abu Bakar membelanya karena menganggap Khalid hanya salah dalam berijtihad.
Penjelasan Kang Jalal ini sempat membuat gaduh suasana dialog. Menandakan beberapa peserta terkejut mendengar sisi kelam orang yang dicap sahabat Nabi saw ini.
"Jika memang semua sahabat Nabi saw itu 'Adalah dan bisa dijadikan landasan sunnah, maka pasti bukan suatu dosa membunuh muslim karena kita suka istrinya, lalu memperistrikannya sebelum masa Iddah (kesucian) selesai," tutur Kang Jalal merujuk kisah Khalid bin Walid.
Seperti yang diduga, kelompok Wahdah Islamiyah menolak pemaparan Kang Jalal. Ustad Rahmat pun menuduh Syiah sedari dulu selalu menghujat para sahabat Nabi saw, utamanya Abu Bakar, Umar dan Utsman. Padahal dalam Alquran, kata Rahmat, Allah swt jelas-jelas sudah menjamin para sahabat Rasul ini. Utamanya yang ikut dalam Baiat Ridwhan --seperti yang disebutkan surah Al Fath ayat 18--, akan diganjar surga.
"Abu Bakar dan Umar Radiallaahu Anhuma jelas-jelas ikut dalam baiat itu," jelas Ustad Rahmat.
Dialog terasa semakin memanas saat Ustad Rahmat menegaskan bahwa kitab-kitab utama rujukan kaum Syiah seperti Al Kaafi dan Biharul Anwar berisi hujatan yang ditujukan kepada tiga khalifah Ar Rasyidin, utamanya Abu Bakar, Umar dan Ustman. Dia juga mengungkapkan bahwa golongan Syiah menganggap dua istri Rasul saw Aisyah binti Abu Bakar dan Hafsah binti Umar sebagai orang yang zindik.
"Coba fikir, bagaimana mungkin Rasul saw mau menikahi orang yang zindik," kata pria yang memanjangkan jenggotnya ini.
Menurut Ustad Rahmat, Ahlusunnah berkeyakinan bahwa seluruh sahabat bersifat 'Adalah. Namun, dia mengakui bahwa sahabat Nabi saw bisa saja salah dalam mengambil kebijakan.
"Tetapi jika mereka salah, maka itu dianggap salah dalam berijtihad dan hanya mendapat satu pahala. Dan jika mereka berdosa, Allah swt telah menjamin mengampun seluruh dosanya sesuai yang diterangkan Alquran," kata Ketua LKKS (Lembaga Kajian Konsultasi Syariah) DPP Wahdah Islamiyah ini.
Selain Kang Jalal dan Ustad Rahmat, dialog ini juga mempersilahkan Muhammad Zain memaparkan makalahnya. Zain yang sudah bertahun-tahun meneliti sejarah sahabat Nabi saw sebenarnya diharap dapat meredam perseteruan antara kedua kelompok ini. Alih-alih menjadi penengah, Zain, meski mampu mengocok perut peserta dialog dengan humor-humor cerdasnya, namun paparan fakta sejarah Sahabat Nabi saw yang dibawakan Zain terasa lebih membenarkan pandangan Syiah.
Bagaimana tidak, Zain justru membuka sisi kelam sejumlah sahabat Nabi saw yang sudah terlanjur diagung-agungkan oleh kalangan Sunni. Bahkan beberapa buku kontroversi seperti kelakuan seks para sahabat juga sempat disinggungnya. Begitu pula dengan fakta sejarah tentang perseteruan di kalangan sahabat Nabi saw. (2)
Kendati begitu, Zain memesankan bahwa fakta historis mengenai prilaku sahabat Nabi saw tetap patut dijadikan pertimbangan. Sebab dari mereka lah ajaran Islam menyebar. Dengan mengetahui bagaimana kelakuan sahabat sepeninggal Nabi saw, umat bisa menjadi tahu bagaimana ajaran Islam bisa sampai dan bentuk-bentuknya.
Untung saja, moderator Hamdan Juhannis mampu memosisikan diri sebagai orang yang netral. Sehingga persinggungan yang lebih jauh pun bisa dihindari. Masalahnya, penanya yang didominasi oleh penganut Sunni, utamanya dari Wahdah cenderung mengangkat pertanyaan yang provokatif.
Sayangnya, dialog yang digagas PPs UIN Alauddin ini masih belum bisa mencapai tujuan mulianya, yakni 'mendamaikan' penganut Mazhab Syiah dan Mazhab Sunni yang dipercayakan kepada Wahdah Islamiyah. Padahal isu yang diangkat masih terbatas pada lingkup Sahabat Nabi saw, belum keilmuan Fiqh, muamalat, tafsir, dan lainnya. Kendati begitu, usaha PPs UIN Alauddin ini patut diberi apresiasi.
Walau begitu, suasana tetap terbina dengan harmonis. Usai acara, para Ustad dari masing-masing mazhab saling berpelukan.
Dia akhir acara, AGH Ahmad Sewang mengingatkan, meski berbeda ideologi dan mazhab, sesama muslim harus saling toleran."Kita hanya mencari kebenaran, bukan pembenaran. Kalau Anda ingin mencari kemenangan, Anda memasuki ruangan yang salah," kata Ahmad Sewang yang disambut aplous meriah dari hadirin.
Ahmad Sewang berjanji pihaknya tidak akan berhenti mempertemukan kedua mazhab ini dalam sebuah dialog. Tujuannya, agar umat muslim bisa saling memahami pandangan masing-masing mazhab dan berusaha untuk toleran dan saling menghormati.
Rencananya, dialog Sunni-Syiah akan kembali digelar. Ahmad Sewang menawarkan dialog dilakukan di markas DPP Wahdah Islamiyah. (*)
09 Maret 2009
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

0 komentar:
Poskan Komentar