Salah satu kelebihan Mazhab Ahlulbait dibandingkan mazhab lainnya adalah kekayaan ritusnya. Tak usah tanya ritus Maulid Nabi saw yang kita peringati saat ini, hari-hari bersejarah yang dialami para turunan beliau yang menjadi imam, hingga hari wafatnya (kebanyakan syahid), pun turut diperingati oleh pengikut mazhab ini. Rasul saw, Imam Ali as, Fathimah as serta 11 imam (Alaihimus Salam), peristiwa-peristiwa yang dialami para manusia mulia ini diperingati sebagai bentuk kecintaan pengikut mazhab Ahlul Bait kepada mereka. Hampir setiap bulan (penanggalan hijriyah), ada saja ritus yang digelar untuk mengenang sosok, ajaran dan kehidupan mereka.
Berkat penyelenggaraan ritus yang berdekat-dekatan dan berkesinambungan selama berabad-abad ini, generasi penganut Mazhab Ahlulbait di masa kini memiliki pengetahuan yang tidak berbeda dengan para pendahulu mereka mengenai sosok dan ajaran Muhammad saw dan para turunannya. Ritus yang digelar secara kontinyu ini berperan penting, agar mereka tetap selalu menjadikan Muhammad saw dan turunannya sebagai teladan sepanjang masa. Yang tak kalah penting, sejarah yang mereka terima --yang biasanya disajikan dalam ritus-ritus yang berkesinambungan itu-- tetap terpelihara keasliannya.
Ritus ini juga tidak digelar sendiri-sendiri, namun dalam sebuah majelis. Melibatkan banyak orang. Sehingga telah menjadi semacam perekat sosial antara penganut Mazhab Ahlulbait itu sendiri. Tentu banyak manfaat yang dirasakan dalam penyelenggaraan ritus yang dikemas dalam sebuah majelis untuk tujuan ibadah.
Sekarang kita tengok fenomena ritus Islami di Indonesia. Lebih kecil lagi, Sulawesi Selatan. Atau di sudut yang runcing, Makassar. Ingat-ingat ada berapa ritus Islami yang kita peringati dalam setahun. Satu Muharram, Maulid Nabi saw, Isra Mikraj Nabi saw, Idul Fitri dan Idul Adha. Pada komunitas tarikat agak mendingan. Ada tambahan Asyura (10 Muharram), 15 Sya’ban, Malam Jumatan, plus haul dari para wali atau gurunya.
Mungkin tak usah dimasukkan golongan-golongan yang menganggap peringatan-peringatan seperti Maulid itu bid’ah. Entah syiar Islami apa lagi yang tersisa bagi mereka.
Kembali ke soal ritus. Dari ritus-ritus ini, barangkali hanya Idul Fitri dan Idul Adha yang bisa dirasakan ‘atmosfirnya’. Maulid? Tidak lebih dari sekedar bagi songkolo dan telur. Isra Mikraj dan 1 Muharram? Hanya pembacaan sejarah --yang masih diperdebatkan kebenarannya-- dan makan-makan kue.
Karena begitu kurangnya ritus ini, generasi muda Islam banyak yang tak tahu mengenai ajaran agamanya sendiri. Karena ritus yang tak banyak ini, jaringan sosial antarsesama muslim juga tidak terlalu merekat.
Bahkan yang menyedihkan, kebanyakan peringatan ritus Islami digelar asal-asalan. Asal maulid, misalnya. Di masa kini, mana ada orang yang mau datang ke acara maulid jika tak ada songkolo dan telurnya.
Maka tak heran, banyak umat Islam di kota ini yang hanya mengenal Muhammad saw sebagai seorang Nabi dan Rasul saja. Tapi tentang siapa Nabi Muhammad saw, siapa keluarganya, bagaimana kehidupannya, tak banyak diketahui mereka. Dan yang mungkin paling celaka, tak mau cari tahu mengenai beliau. Kalau sosok Nabi Muhammad saw tidak diketahuinya, bagaimana pula dengan ajaran-ajarannya.
Mungkin karena perannya sebagai perekat sosial, sehingga beberapa kesultanan hingga kini masih bertahan. Lihat di kesultanan di Yogyakarta yang tetap eksis. Acara Mauludan dan Asyura-nya, ada arak-arakan pengawal dan makanan-makanan massal. Di Buton yang juga masih eksis kesultanannya, acara Maulid sama besar dengan perayaan Idul Fitri. Malah tiga hari sebelum 12 Rabiul Awwal, masyarakatnya sudah berbenah-benah. Bikin masakan yang enak-enak.
Banyak yang bilang, budaya barat telah 'mengalahkan' ritus-ritus Islami itu. Film, music, show, fashoin dan lain-lain membuat generasi muda lebih betah pergi ke mall, nonton di rumah, daripada menghadiri majelis Maulid Nabi saw di masjid-masjid. Alam pikiran mereka mereka telah disabotase agar lebih senang melafalkan nyanyian-nyanyian asing daripada shalawat. Amit-amit Tuhan. Saya memohon agar tidak masuk dalam golongan seperti itu.
Tak usah saya berpanjang lebar. Jika ingin mencari maulid Nabi saw yang asli dan bukan asal, maka cari lah Maulid yang digelar oleh para penganut Mazhab Ahlul Bait. Masih ada waktu kok.
Maaf kalau tulisannya agak belepotan. Soalnya disusun dalam keadaan sesak nafas ringan. Hehehehe. Wassalam. (*)
09 Maret 2009
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

0 komentar:
Poskan Komentar