Barack Hussein Obama dan Joe Bidden akhirnya terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden Amerika Serikat. Harapan terciptanya Amerika yang lebih baik kini berpangku di ‘tangannya’. Amerika yang hangat terhadap negara-negara berkembang, dan sangat lembut bagi negara miskin. Namun sangat tegas terhadap para negara penindas.
Syahdan, saat menduduki kursi kepresidennya di ruang oval gedung putih, pekerjaan pertama Obama adalah memanggil seluruh stafnya. Dia berkata,
“Kumpulkan semua pejabat Pentagon dan panggil dubes-dubes. Ada yang ingin saya sampaikan,” katanya.
Sesuai perintah Obama, maka semuanya dikumpulkan pada sebuah gala diner yang digelar di Gedung Putih. Para undangan menikmati jamuan yang super enak dan super mewah. Suasana yang amat sangat ekslusif. Suara musik instrumental bercampur dengan riuhnya pembicaraan.
Usai makan, Obama menetak-netak gelas winenya. Dia minta perhatian. Suasana senyap seketika. Obama yang memakai setelan jas hitam dipadu dasi kupu-kupu berdiri. Dia tersenyum lebar.
“Terima kasih karena Anda sekalian telah memenuhi undangan saya. Saya yakin, yang ada di sini adalah orang-orang penting, penentu masa depan bumi dan umat manusia yang ada di dalamnya,” Obama mengawali sambutannya.
“Terus terang, saya mengundang kalian ke sini untuk membahas masalah yang saya pikir sangat penting. Dunia saat ini mengalami krisis yang sangat berat. Dan kalian sudah tahu itu,”
Obama diam sejenak. Dia lalu melepas dasi kupu-kupunya. Air mukanya tiba-tiba berubah.
“Malam ini, saya tidak akan melayani ucapan selamat dari pihak mana pun. Saya tidak memerlukan itu untuk saat ini. Maka simpan saja ucapan selamat itu dalam kantung kalian,” katanya.
Obama diam lagi. Dia lalu mendongakkan kepala ke atas. Matanya terpejam. Sekitar 10 detik.
“Dengar. Malam ini, perubahan yang sangat dramatis akan terjadi. Dan itu harus bermula di ruangan ini, malam ini. Dan perubahan itu, bisa terjadi dengan menyatukan kekuatan bersama. Ya, kita pasti bisa,” kata Obama dengan mengepalkan tangan.
Satu tepuk tangan terdengar, disambung tepuk tangan yang lain, dan lain, lagi dan akhirnya tepuk tangan membahana dalam ruangan. Semua undangan berdiri. Standing aplouse.
Obama menaik-turunkan tangannya. Memberi isyarat agar riuh tepuk tangan agar segera diturunkan.
Setelah itu, dia menengok, ke kiri, ke kanan. Mencari-cari sesuatu.
“Mana kepala departemen kehakiman,” kata Obama setengah berteriak.
“Saya di sini yang mulia,” kata seorang pria yang ternyata hanya duduk dua meja di sebelah kirinya. Pria ini tersenyum lebar. Bangga.
“Mana Dubes Israel?” kata Obama.
“Saya di sini yang mulia,” kata seorang yang kepalanya telah dipenuhi uban. Senyumnya tak kalah lebar dengan kepala departemen kehakiman.
“Baik. Selain kedua orang luar biasa ini, saya mohon semua undangan agar duduk kembali,” katanya.
Seluruh undangan menuruti permintaan Obama. Suasana kembali tenang.
“Kamu,” kata Obama menunjuk menteri kehakimannya.
“Malam ini, sekarang ini, buat surat dakwaan untuk Bush atas kejahatan perangnya di Irak dan negara-negara yang diduduki tentara Amerika. Kirimkan ke Den Hag. Biar dia diadili di sana,” kata Obama.
Suasana sontak gaduh. Kepala Departemen Kehakiman tertunduk bisu. Dia terlihat kebingungan. Tiba-tiba saja, Dubes Israel bersuara.
“Tapi yang mulia. Bush telah..,” Dubes Israel menimpali.
“Diam kamu. Saya belum selesai dengannya,” Obama memotong. Dia menatap tajam si Dubes Israel.
“Dan kepada seluruh undangan, saya mohon agar mendengar yang akan saya ucapkan,” kata Obama.
“Buat juga dakwaan terhadap jenderal-jenderal yang terbukti melakukan kejahatan perang. Baik di Irak maupun Guantanamo. Juga tentara-tentara kita yang telah berbuat biadab terhadap penduduk sipil. Kalau kejahatannya sudah kelewatan, susulkan ke Den Hag. Tapi kalau masih bisa diadili di sini, adili di sini saja. Kita akan upayakan penegakan supremasi hukum yang seadil-adilnya,” papar Obama.
Menteri kehakiman masih tertunduk. Terpaku di tempatnya berdiri.
“Apa lagi yang kamu tunggu. Tinggalkan secepatnya tempat ini. Dan segera lakukan apa yang saya perintahkan,” tegas Obama.
Si menteri meninggalkan mejanya. Dia disusul beberapa stafnya.
“Dan kamu,” kata Obama sambil menunjuk dubes Israel untuk negerinya.
“Malam ini, sekarang juga, kamu pergi telepon presidenmu. Katakan padanya, Obama minta seluruh paramiliter Israel ditarik dari Gaza. Dan dari seluruh tanah Palestina,”
Jari telunjuk Obama menunjuk-nunjuk lagi ke bawah. Air mukanya terlihat menegang.
“Lakukan apa yang saya katakan. Atau kamu akan mengalami nasib yang sama dengan sesamamu di Bolivia dan Venezuela,” kata Obama.
Dengan wajah merah padam, Dubes Israel ini meninggalkan meja makannya.
“Eh, tunggu dulu,” kata Obama setengah berteriak.
Dubes Israel menghentikan langkahnya.
“Sekalian sampaikan pada presiden dan perdana menterimu, agar bersiap-siap menghadapi pengadilan internasional di Den Hag. Amerika sendiri yang akan membuatkan tuntutan. Dan katakan juga, Amerika akan berhenti menyuplai senjata dan peralatan militer ke Israel. Oke,” kata Obama.
Si dubes melanjutkan langkahnya. Beberapa agen keamanan menyusulnya. Dubes benar-benar meninggalkan ruangan itu.
“Lega rasanya,” kata Obama. Senyumnya kembali. Dia masih berdiri.
“Saya sudah bilang dari tadi. Kita pasti bisa berbuat perubahan dengan bersama-sama. Menteri kehakiman saya dan dubes Israel telah menunjukkan komitmennya. Mereka kini sedang bekerja untuk menciptakan bumi yang damai,” kata Obama lalu kembali duduk di kursinya.
Tak ada tepuk tangan. Keheningan mencekam ruangan gala diner.
“Nah. Sekarang, apa yang bisa kita lakukan lagi. Apa bisa kita lanjutkan dengan masalah Korea Utara, Pakistan, India, atau Iran,” kata Obama. Dia melempar pandangannya ke seluruh hadirin.
Ups. Imajinasi saya hanya sampai di sini saja. (*)

0 komentar:
Poskan Komentar