11 Desember 2008

Runtummi Bulu Ruwayya, Ramalan yang Jadi Kenyataan?


Pegunungan Bawakaraeng adalah salah satu legenda di tanah Makassar. Namun penduduk Makassar kuno, atau setidaknya masyarakat Makassar yang masih tradisionil selalu menyandingkan nama Bawakaraeng dengan Lompobattang. Memang, Gunung Bawakaraeng dan Gunung Lompobattang merupakan satu kesatuan wilayah atau pegunungan. Bisa juga dikatakan gunung kembar. Secara geografi, Gunung Lompobattang - Bawakaraeng bersatu dalam wilayah pegunungan besar Verbek. Adapun pegunungan Verbek membentang dari Kabupaten Sinjai hingga Kota Parepare.


Saya masih ingat ada syair menyebutkan Punna Runtummi Bulu Ruwayya yang berarti; Jika Dua Gunung Telah Runtuh, maka pertanda akan muncul petaka yang sangat hebat. Sebagian orang-orang tua menafsirkan Bulu Ruwayya berarti dua gunung kembar milik kaum hawa. Intinya, Bulu Ruwayya disini diartikan simbol kehormatan perempuan. Keruntuhan dua gunung, diartikan keruntuhan moralitas.


Tetapi sebagian lagi menafsirkan Bulu Ruwayya adalah Gunung Bawakaraeng dan Gunung Lompobattang. Runtummi Bulu Ruwayya diartikan Gunung Bawakaraeng – Gunung Lompobattang benar-benar runtuh. Sebuah fenomena alam.


Jika dilihat dari Kota Makassar, tepatnya ke arah timur, maka Gunung Bawakaraeng dan Gunung Lompobattang terlihat sebagai bukit kembar yang dihubungkan oleh sebuah dataran tinggi diantaranya. Karena terlihat dari jarak kira-kira seratusan kilometer, kita tidak akan bisa membedakan mana yang lebih tinggi, apakah Gunung Bawakaraeng atau Gunung Lompobattang. Puncak kedua gunung ini benar-benar nampak sejajar, sekalipun faktanya, Gunung Lompobattang lebih tinggi beberapa raus meter. Garis punggungannya pun nyaris sama. Benar-benar sepasang gunung kembar. Bahkan mungkin, masih banyak penduduk Kota Makassar yang tidak tahu sebelah mana Gunung Bawakaraeng, dan mana Gunung Lompobattang. Apakah yang sebelah kiri atau kanan.


Kembali ke soal penafsiran. Runtummi Bulu Ruwayya punya pesan moril sebagai pertanda munculnya malapetaka besar. Bahkan ada yang melanjutkan, malapetaka ini berupa bentrokan berdarah. Lapangan Karebosi (Titik Nol Kota Makassar) juga dikait-kaitkan dalam syair ini. Maklum, Lapangan Karebosi sendiri juga legenda yang sama terkenalnya karena mungkin sama purbanya dengan dua gunung ini.


Katanya, suatu saat nanti, jika kedua gunung ini runtuh, maka tidak lama lagi akan terjadi semacam perang dengan jumlah korban yang sangat banyak. Saking banyaknya, Lapangan Karebosi yang luasnya 8 hektar nantinya akan terendam darah. Yang mengerikan, darah itu setinggi mata kaki.


Yang mencengangkan bagi saya, penafsiran Runtummi Bulu Ruwayya sepertinya menjadi semacam ‘ramalan yang jadi kenyataan’. Kalau ditinjau dari penafsiran keruntuhan moralitas, maka kini, faktanya tak terhitung lagi seberapa banyak kaum perempuan yang telah mengalami keruntuhan moralitas. Apa malapetakanya? Jangan ditanya lagi. Saya kira semua sudah tahu. Apalagi dalam ajaran Islam, perempuan selalu ditegaskan sebagai tiangnya negara. Jika perempuannya rusak, maka berarti rusaklah tiang itu. Jika tiang sudah rusak, maka bangunan yang disanggahnya tinggal menunggu waktu ambruk.


Apa yang menyebabkan keruntuhan moralitas seorang perempuan? Jawabannya tentu bisa dari banyak hal. Laki-laki bisa saja jadi disalahkan. Baik lelaki bermoral, apalagi yang amoral. Pun dengan keluarga, lingkungan pergaulan, budaya barat, media informasi yang terlalu bebas, globalisasi atau apa pun namanya. Yang jelas, keruntuhan moral selalu diawali dari runtuhnya benteng keimanan. Syukur-syukur kalau imannya memang pernah menjadi benteng.


Apa yang menyebabkan benteng keimanan ini bisa runtuh? Pertanyaan yang muncul tentu tidak akan ada habis-habisnya dan justru memicu perdebatan yang tak berujung. Dan Saya, amat sangat tidak ingin memancing perdebatan. Karena menurut saya, perdebatan selalu saja mengundang perdebatan lain yang kadang tidak ada hubungannya. Dan sekali lagi, akhirnya akan menjadi sesuatu yang tak berujung.


Tapi kenapa keruntuhan moralitas dalam syair ini dilekatkan kepada si pemilik gunung kembar? Saya pikir, itu urusan pencipta bait syair ini. Kalau tidak suka, silahkan bikin syair sendiri.


Daripada berdebat, lebih baik langsung turun tangan. Membina adik-adik kita, baik laki-laki atau perempuan, atau mengingatkan mereka yang lebih tua dari kita. Tentu saja, si pembina ini harus lebih baik ilmu agamanya atau sekurang-kurangnya bisa menjadi panutan. Soal pembinaan kita berhasil atau tidak, serahkan semua kepada Yang Maha Kuasa. Toh pada hakikatnya, manusia memang tidak bisa memberi hidayah. Paling tidak, kita sudah berusaha menyampaikan hal-hal baik.


Kalau diikuti, sujud syukur. Tidak diikuti, didoakan supaya semoga peroleh hidayah. Ingat, bukan kita yang punya Surga dan Neraka. Orang bijak mengatakan, jika menyangkut hal baik, akan lebih baik terlambat dilakukan daripada tidak sama sekali.


Tafsiran Runtummi Bulu Ruwayya sebagai runtuhnya Gunung Bawakaraeng dan Gunung Lompobattang, barangkali juga ada benarnya. Tepatnya pada 26 Maret 2004 lalu, sedikit dari bagian Gunung Bawakaraeng ambruk. Sedikit ini berarti ratusan juta kubik tanah, pasir, batu dan pohon dari Gunung Bawakaraeng yang jatuh lalu menimbun ngarai sepanjang 50 km, lebar 2 km – 5 km dan kedalaman 200 m – 600 m. Termasuk menimbun hidup-hidup belasan warga Dusun Manimpahoi yang sehari-hari mengambil berkah dari suburnya Ngarai Gunung Bawakaraeng.


Dahsyatnya ‘murka alam’ ini sampai-sampai menimbulkan kawah-kawah baru di atas bekas tanah longsoran, mulai yang berukuran raksasa hingga kolam-kolam kecil. Juga membentuk aliran-aliran sungai. Bagi kalangan penggiat alam bebas, longsor ini menjadi duka mendalam lantaran telah merenggut panorama eksotis di sebagian pos VII, pos VIII dan sebagian pos IX Gunung Bawakaraeng. Saya termasuk beruntung karena masih sempat mengabadikan gambar di pos VIII, dua pekan sebelum ‘pos’ ini hilang.


Longsor ini sendiri sebenarnya sudah menjadi malapetaka besar. Tetapi saya sangat yakin, dampak longsoran ini akan menimbulkan malapetaka yang lebih besar lagi. Terutama dampaknya terhadap lingkungan hidup. Informasi yang tersiar, material tanah dan bebatuan dari longsoran ini akan memengaruhi ketahanan dinding Waduk Bili-bili yang menjadi sumber air baku utama PDAM Makassar dan PDAM Gowa. Kalau waduk ini sampai rusak, tak berani rasanya saya bayangkan. Krisis air bersih akan melanda satu juta orang di Kota Makassar dan Kabupaten Gowa.


Tahun lalu saya dengar, JICA telah mengidentifikasi adanya calon longsoran baru di Gunung Bawakaraeng. Kalau jatuh, diperkirakan mengarah ke Kabupaten Sinjai. Mungkin tinggal menunggu air hujan yang akan semakin memperberat massa tanah Gunung Bawakaraeng. Apalagi, tanah gunung ini dikenal sangat labil. Selebihnya, akan diselesaikan oleh gaya gravitasi bumi.


Soal ramalan terjadinya pertumpahan darah di Lapangan Karebosi, semoga saja itu tidak terjadi. Mudah-mudahan, Karebosi cukup sudah menjadi pertikaian segelintir orang. Wallaahu a’lam bis shawab.


*) Keterangan Foto: Saya termasuk beruntung bisa mengabadikan pos VIII Gunung Bawakaraeng dua pekan sebelum 'pos' ini hilang. Bagian puncak sudah mengalami tanda-tanda longsor.

0 komentar:

Poskan Komentar