24 Desember 2008

Menggugat Kurikulum Tarikh Islam dan Biologi

Balonku Ada Lima
Rupa-rupa warnanya
Merah, kuning, kelabu, merah muda dan biru
Meletus balon hijau, duarrr...
Hatiku sangat kacau
Balonku tinggal empat
Kupegang Erat-erat

Lagu ini sudah melegenda. Popularitasnya belum lekang selama beberapa dekade ini. Tiap taman kanak-kanak telah menjadikan lagu ini sebagai wajib hapal. Saya juga termasuk generasi penghapal lagu yang tak saya ketahui, siapa pengarangnya itu.

Pernah suatu kali, saya dan teman-teman mendampingi sebuah tim ekspedisi dari Mataram untuk mendaki Pegunungan Bawakaraeng. Kala itu, rambut saya masih gondrong. Rambut gondrong, kaos hitam, gelang karmantel, memang menjadi identitas para petualang alam bebas di Indonesia.

Sebelum memulai pendakian, kami istirahat di rumah penduduk Lembanna, di kaki Pegunungan Bawakaraeng. Usai makan siang, salah seorang teman dari Mataram mengambil gitar. Dia lalu memainkan lagu slow rock dari barat. Suaranya lumayan rocker. Teman-teman yang lain duduk di sekitarnya. Beberapa dari mereka minum anggur merah untuk menghangatkan badan. Suhu saat itu memang sangat dingin. Mungkin sekitar 14-15 derajat celsius. Yang tidak gemar miras, hanya minum kopi atau teh yang dicampur irisan jahe.

Barangkali tak ada yang backing vocal, si pemain gitar ini mulai risih menyanyi sendiri. Dia lalu mengubah total lagunya. Dia menyanyikan lagu Balonku Ada Lima, tapi dengan warna rock. Lucu kedengarannya. Teman yang lain tertawa terpingkal-pingkal. Suasana berubah gaduh. Kami pun ikut menyanyikan lagu anak-anak yang populer itu dengan gembira.

Enam atau tujuh tahun sejak peristiwa itu, saya menerima milis dari seorang teman. Topik yang dibicarakannya sebenarnya ringan, tentang lagu Balonku Ada Lima ini. Bahwa sebenarnya, balon dalam lagu itu bukan lima, melainkan enam. Dia pun merincinya satu per satu. Merah, kuning, kelabu, merah muda dan biru. Lalu balon keenamnya adalah balon hijau yang meletus.

Dalam hati, saya tertawa kecil. Menertawakan diri saya dan mungkin berjuta-juta orang lainnya yang telah ‘dipelonco’ oleh lagu itu.

***

Selama ini, entah sudah berapa banyak ilmu yang kita dapatkan, baik dari pengalaman maupun dari bangku sekolah formal. Beberapa diantaranya kita saring sesuai dengan keinginan jiwa. Sebagian ilmu lagi ditelan mentah-mentah. Ditelan mentah-mentah karena tidak ada keinginan menggali lebih dalam ilmu itu dan siapa pengajar ilmu itu. Dalam istilah syariat, yang seperti ini disebut taklid buta.

Contohnya salat. Kebanyakan dari kita ikut salat cara orang tua, keluarga atau dari guru agama. Bagi yang bertaklid buta, salatlah ia dengan cara salat orang yang mengajarnya. Bagian buruknya, jika pengajarnya itu tidak bertambah pengetahuannya tentang salat atau ilmu agama yang lain, maka begitu pun dia. Dan jika pengajarnya itu meninggal dunia, maka berakhir pulalah pengetahuannya tentang salat.

Suatu saat, ketika menunaikan haji dan melangsungkan salat berjamaah di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, si pentaklid buta barangkali akan terkejut melihat betapa beragamnya cara orang salat. Ada yang bersedekap tepat di tengah dada, ada yang sedikit turun ke perut, ada yang sedekap di bawah pangkal lehernya, dan bahkan ada yang sama sekali tidak sedekap.

Syukur-syukur jika si pentaklid buta ini mau menerima keberagaman. Meletakkan urusan fiqh dibawah lapisan akhlak. Karena celaka lah kalau tidak. Dia pasti akan menuding semua yang tidak sama dengannya sebagai pengamal bid’ah. Seakan-akan dia yang menentukan orang masuk syurga atau neraka.

Taklid buta memang harus dihindari. Tapi ada kalanya, taklid buta itu terasa berat ditentang. Seperti lagu Balonku Ada Lima itu. Kita menyanyikannya dari waktu ke waktu tanpa menyadari ada kesalahan angka yang tersembunyi di balik nadanya, legendanya, semangatnya, atau apalah namanya. Ada beberapa masalah atau bahkan mungkin kepentingan yang ‘memaksa’ agar sebagian kita tetap bertaklid buta. Tetap seperti apa yang mereka inginkan.

Saya masih ingat kepingan-kepingan pelajaran sejarah Islam saat mondok di madrasah tsanawiyah Pesantren DDI Mangkoso. Di pesantren, kami mempelajari Tarikh (Sejarah) Islam yang berjilid-jilid. Kalau tidak salah sampai tiga jilid untuk tingkat tsanawiyah.

Tarikh ini lebih banyak membahas soal sejarah pemerintahan dinasti Islam, utamanya dua dinasti besar; Dinasti Umayyah yang didirikan Muawiyah bin Abi Sofyan serta Dinasti Abbasiyah yang didirikan Abbas bin Ash Shaffah. Juga, tentang siapa-siapa saja penguasanya dan kapan kerajaan Islam ini mengalami masa keemasannya. Tak lupa pula beberapa sahabat Rasul saw yang disebut-sebut sebagai orang muqarrabin, pedang Allah dan lain-lain.

Di pesantren, hukuman fisik yang keras menjadi salah satu cara memacu kemauan santri belajar. Cambukan, plintir, hingga tamparan adalah pemandangan lazim ditemui di pesantren. Saya sendiri sudah berkali-kali kena cambuk jika tak bisa menghapal pelajaran yang ditugaskan. Termasuk pelajaran tarikh ini.

Guru tarikh saya bernama Drs Muhammad Sadiq. Panggilannya Pak Sadiq. Penampilannya selalu rapi. Kopiah yang terpasang agak miring serta kacamata cokelat tebal menjadi ciri khasnya. Bagi santri tsanawiyah, Pak Sadiq masuk dalam jajaran guru killer. Tapak tangannya yang tebal selalu siap mendarat keras di pipi jika ada kesalahan.

Suatu hari, kami mendapat tugas menghapal sejumlah nama pejabat pada Dinasti Umayyah. Tahun kelahirannya, kapan menjabat, proses penyerahan jabatan, harus sudah dihapal diluar kepala. Tapi yang ditekankan Pak Sadiq, prestasi mereka saat menjabat sebagai khalifah.

Waktu menyetor hapalan tiba. Jantung saya mulai berdegup kencang. Berhadapan dengan guru killer memang selalu membuat saya ketakutan. Waktu itu, saya ingat diberikan tugas menghapal sejarah Muawiyah bin Abi Sofyan, anaknya Yazid bin Muawiyah, serta seorang panglima perang bernama Khalid bin Walid.

Menghapal sejarah tentang Muawiyah tak terlalu sulit bagiku. Sebab sebelumnya saya sudah sering membaca kisah perselisihan Muawiyah dengan Imam Ali kwh, lalu berselisih lagi dengan Hasan bin Ali. Hingga akhirnya, dia berhasil mengambil tampuk kepemimpinan dinasti Islam setelah Imam Ali kwh dibunuh secara keji oleh Ibn Muljam, sang durjana.

Sejarah tentang Yazid pun mudah dihapal. Karena sejarahnya ditulis ringkas dalam buku itu. Dia hanya diketahui sebagai anak Muawiyah yang melanjutkan kepemimpinan ayahnya yang dianggap berhasil.

Yang membuat saya berantakan adalah sejarah Khalid bin Walid yang panjangnya bikin ampun. Tokoh yang satu ini merupakan panglima perang yang punya banyak kisah. Sementara memori saya tidak terlalu baik jika berada di bawah tekanan. Dan Pak Sadiq, sama sekali tak mentolelir hapalan yang diucapkan secara terbata-bata.

Plak! Saya terkejut. Seorang kawan telah kena tampar. Dia disuruh keluar kelas. Plak! Kawan lainnya kena tampar lagi. Dia juga diusir dari kelas.

Tinggal beberapa nama lagi sebelum namaku disebut. Kawan-kawan yang belum mendapat giliran melafalkan pelan-pelan hapalannya. Tak ada yang saling melirik. Semua sibuk dengan hapalannya. Semua ingin menyelamatkan diri.

Beberapa teman yang berhasil lolos, duduk tenang di mejanya. Mereka asyik menyaksikan teman-teman yang tengah menjalani ‘masa-masa menyeramkan’ di sisi meja Pak Sadiq. Sedangkan saya terus memacu memori untuk sejarah Khalid bin Walid.

Pak Sadiq akhirnya menyebut namaku. Giliranku berdiri di 'lantai pesakitan'. Awalnya, hapalanku tentang Muawiyah dan Yazid lancar-lancar saja. Namun saat sejarah Khalid, memoriku mulai tersumbat. Sorot mata Pak Sadiq membuatku semakin takut. Saya mulai kesulitan merunut. Endingnya, hapalanku jadi buyar. Dan Plak!! Aku kena tamparnya. Dia mengusirku keluar kelas, bergabung dengan rekan-rekanku yang lain.

Masa penamparan memang singkat tapi beraneka rasanya. Malu dan sakit tentunya. Tapi setelah itu, saya seperti merasa plong. Itu juga yang saya lihat pada teman-temanku. Mereka bahkan menertawaiku. Kami membincangkan bagaimana rasa tapak tangannya Pak Sadiq.

Dua belas tahun setelah peristiwa itu, saya memeluk Mazhab Ahlulbait. Karena masih baru, saya pun mulai mencari literatur-literatur yang berkaitan dengan mazhab ini. Termasuk soal tarikh. Beberapa teman juga berbaik hati memberikan buku-bukunya.

Akhirnya Kutemukan Kebenaran karangan Muhammad At Tijani Samawi adalah buku paling pertama yang saya baca diawal menjalankan Mazhab Ahlulbait. Dari buku ini, saya kemudian tertarik membaca kisah Karbala. Beberapa teman menawarkan sejumlah buku tentang Karbala. Tapi kupilih yang paling tebal. Ada lebih 1000 halaman. Sayangnya, saya sudah lupa siapa pengarangnya. Seingatku, gambar seseorang yang sangat tampan dan berwibawa menjadi sampul buku ini. Beliau adalah Husain bin Ali as. Salah satu cucu kesayangan Rasul saw.

Di pesantren dulu, saya memang sering mendengar nama Husain bin Ali as. Namun sebatas bahwa beliau putera Imam Ali kwh yang pernah menawarkan badannya sebagai ganti qishash kakeknya yang mulia, Rasulullah saw. Bahwa beliau sering disebutkan sebagai Penghulu Pemuda Syurga. Hanya itu saja.

Buku Karbala akhirnya menjelaskan kepadaku, siapa sosok Husain bin Ali as sebenarnya. Karbala, saksi bisu kebiadaban sekelompok manusia, terhadap lelaki yang sering dicium-cium Rasul saw saat masih kecil, Husain bin Ali as. Karbala, menjadi tempat berhadap-hadapannya kebenaran dan kebatilan. Antara 73 cucu dan keponakan Nabi saw, melawan lebih 60.000 pasukan Yazid bin Muawiyah. Karbala pada Asyura (10 Muharram) bukan peperangan. Namun pembantaian.

Buku Karbala ini menjelaskan dengan rinci bagaimana menderitanya para cucu dan keturunan Nabi saw menjelang Asyura. Saat membaca untaian demi untaian kata, saya bisa merasakan bagaimana si penulis menuliskan sejarah ini dengan hati tersayat-sayat. Penulis buku itu berhasil membuat air mataku bercucuran. Padahal, saya sebenarnya termasuk orang yang sulit meneteskan air mata kala itu.

Sampai pada kisah bayi Husain as, Ali Al Ashgar yang kehausan --- karena pasukan Yazid memblokir sungai Eufarat---, akhirnya syahid setelah lehernya tertembus panah beracun. Nafasku tiba-tiba sesak. Pandangan menjadi kelam. Saya tak kuasa melanjutkan bacaan itu. Saya menutup buku Karbala. Kejam nian. Hatiku merintih; manusia seperti apa yang begitu tega menyakiti cucu-cucu Rasul saw.

Ubaidillah bin Ziyad, Yazid bin Muawiyah, Muawiyah bin Abi Sufyan, Syimr serta sederet nama lainnya diabadikan dalam sejarah ini. Mereka adalah kelompok orang yang sangat membenci para Ahlulbait Nabi saw.

Saya jadi sadar, lalu teringat pelajaran tarikh di pesantren. Yazid bin Muawiyah? Muawiyah bin Abi Sufyan? Bukan kah mereka adalah orang yang dianggap sukses dalam memerintahkan dinasti Islam? Muawiyah bahkan disebutkan sebagai raja yang membawa Islam pada era keemasan.

Yazid?! Saya akhirnya paham, mengapa kisahnya dalam tarikh yang pernah saya hapal itu sangat singkat. Beda mazhab, maka beda pula sejarahnya. Barangkali, ada yang ingin agar sebagian anak-anak muslim tidak mengetahui siapa Yazid. Atau mungkin, apa itu Karbala, apa itu Asyura.

Soal fiqh atau tafsir --namanya juga tafsir--, mazhab boleh saja beragam. Tapi sejarah, pasti hanya satu yang benar. Dimensinya hanya satu. Yang jelas para Ulama, aliran mazhab, ideologi, tarikat, satu pandangan dalam peristiwa Karbala. Dan peranan Yazid dalam peristiwa itu, luar biasa panjangnya. Luar biasa dosanya. Iblis, sang penguasa jagad kejahatan saja, tak sanggup menyaksikan saat-saat para durjana itu, mencabik-cabik tubuh Husain bin Ali as. Begitu yang saya kutip dari penjelasan buku itu.

Bagaimana dengan Khalid bin Walid? Di luar kisah heroiknya yang pernah saya pelajari, ternyata dia juga dikisahkan membunuh Malik bin Nuwairah lantaran terpikat kecantikan istri Malik, Laila binti Mihlal. Usai membunuh Malik bin Nuwairah, Khalid pun meniduri Laila malam itu juga. Kisah ini sebenarnya menyangkut pertentangan pendapat antara Umar bin Khattab dan Abu Bakar. Sebab Umar ingin menghukum mati Khalid melalui rajam. Namun Abu Bakar membelanya.

Saya merenung. Ini tidak lagi sekadar ‘menertawakan diri sendiri dan jutaan orang lain’ seperti saat saya selesai membaca milis Balonku Ada Lima. Ini, persoalan yang sangat serius. Saya ingin menggugat. Kenapa kisah Karbala tak pernah diajarkan di bangku sekolah? Bahkan di pesantren sekalipun? Padahal kisah ini mendapat pengakuan dari seluruh Ulama, seluruh mazhab, seluruh ideologi, seluruh aliran pergerakan Islam. Seluruh aliran tarikat memeringatinya setiap 10 Muharram, kendati dengan cara berbeda-beda. Kenapa tokoh-tokoh durjana dalam peristiwa Karbala justru diagung-agungkan?

Ada yang membiarkan kita terus bertaklid buta. Celaka! Sejarah yang salah itu, telah diajarkan sejak dini. Di sekolah-sekolah agama. Di pesantren-pesantren. Kurikulumnya masih tetap dari dulu sampai detik ini. Dan itulah yang tertanam di pikiran kami, para santri.

***

Lantas, apa benang merah taklid buta ini dengan biologi? Kita mungkin masih mengingat teori evolusi yang ditemukan oleh Charles Darwin. Teori ini tidak sekadar mengajarkan bahwa manusia berasal dari kera, tetapi juga menjelaskan bahwa semua mahluk hidup ini ada dengan sendirinya. Dengan kata lain, teori evolusi mengajarkan kepada kita tidak adanya penciptaan. Bahwa Tuhan itu, tidak ada!

Namun di abad milineum ini, teori evolusi mulai meradang seiring berkembangnya ilmu mikrobiologi dan antropologi. Bahkan dilaporkan sudah runtuh. Para pendukung evolusi tak bisa lagi menjelaskan bagaimana kompleksnya susunan DNA dan RNA. Juga bagaimana hilangnya mata rantai fosil.

Adalah Harun Yahya, cendikiawan muslim dari Turki yang telah meruntuhkan teori evolusi ini. Padahal Harun Yahya sendiri tidak pernah mengecap ilmu sains di bangku sekolah formal. Namun kegigihannya dalam belajar dan meneliti, ---bahkan saat dalam penjara-- membuatnya menguasai ilmu sains. Harun Yahya, juga telah berbaik hati menyebarkan ilmunya melalui internet.

Oh iya, belum lama ini, Seminar Internasional oleh Wallacea digelar di Makassar. Temanya, mengenang surat dari Ternate. Saya ceritakan sedikit. Dalam kisah Charles Darwin, ternyata terselip nama Alfred Russel Wallace. Saat terserang demam tinggi di Ternate, Wallace mendapat semacam pencerahan. Bahwa ternyata, mahluk yang terkuatlah yang bisa bertahan.

Wallace lalu mengirimkan surat kepada sahabatnya, Charles Darwin. Sang Darwin terkejut dengan penjelasan ilmiah kawannya ini. Berbekal surat itulah, teori evolusi itu akhirnya menjadi 'sempurna'.

Meski tidak mengangkat teori darwin secara gamblang dalam seminar itu, setidaknya ada upaya menyegarkan kembali pikiran kita tentang eksistensi teori evolusi. Kembali menyegarkan, bahwa kita ini ada dengan sendiri. Bukan diciptakan.

Entah kenapa juga, Dubes AS untuk Indonesia, Cameron R Hume, menghadiri seminar ini.

Jika masyarakat Eropa kini diguncang dengan keruntuhan teori evolusi, bagaimana di Indonesia? Di Sulawesi? Di Makassar?

Murid-murid yang lugu itu, adik-adik kita, anak-anak kita, masih asyik di bangku sekolahnya, menghapal dengan baik runtutan evolusi jerapah, atau burung finch di kepulauan Kalapagos, Capalagos, atau apalah. Saya sendiri berusaha untuk melupakannya.

Sementara jutaan guru biologi yang muslim atau muslimah, mungkin telah mempersiapkan hukuman fisik bagi pelajar yang tak bisa menghapal dengan baik teori evolusi. Setidaknya, angka merah untuk jawaban yang tak sesuai.

Kini, apa yang bisa kita lakukan? Membiarkan diri terus ditaklid-butakan? Saya cuma bisa menggugat kurikulum tarikh Islam dan biologi lewat tulisan ini. Anda harus bisa lebih dari ini.

Maaf. Saya ingin menyanyi lagi.

Merah, kuning, kelabu, merah muda dan biru.
Meletus balon hijau. Duar!!
Hahahahaha....

1 komentar:

  1. lagu itu sebenernya salah lirik mas...
    bnyk orang2 yg salah menyanyikan lagu balonku itu.....
    balonnya sebenernya emang cuma 5,lirik yg bener:

    hijau kuning kelabu, merah muda dan biru...
    meletus balon hijau....

    :D


    saya pernah baca ttg penderitaan wallacea gara2 dicaplok idenya sama si monyet darwin,(eh...maaf....tapi iya kan kalo darwin itu monyet?kan dia yg ngaku sendiri...)

    saya baca ttg garis wallacea and ide2nya itu di buku Krakatau...

    wah,,, keren juga bukunya :D

    BalasHapus